Kamis, 12 Maret 2015

Delapan Cara Memahami Kehendak Tuhan



Delapan Cara Mengetahui Kehendak Tuhan Dalam Kehidupanmu

Ketika saya masih muda, saya sepertinya terus bergulat dengan mengetahui kehendak Allah bagi hidup saya. Aku ingin lebih dari apa pun untuk mengikuti rencana-Nya. Menariknya, sekarang aku "tua" (saat ini berusia 47 tahun), saya masih bergulat dengan melakukan kehendak-Nya dalam hidup saya. Aku datang untuk belajar bahwa ini bukan hanya sesuatu yang orang muda tidak awal kehidupan; itu adalah mengejar seumur hidup agar tetap tepat di tengah rencana-Nya.

Jadi, kemudian, bagaimana kita bisa tahu rencana Allah bagi hidup kita? Selama dua puluh lima tahun terakhir yang saya telah dalam pelayanan, saya telah menemukan delapan kunci penting untuk mengetahui kehendak Tuhan. Di sini mereka adalah:

1) Berjalan dengan Tuhan.

Sebagai permulaan, jika Anda tertarik untuk mengetahui rencana Allah bagi hidup Anda, maka Anda harus belajar berjalan dengan Allah. Anda perlu mengembangkan hubungan dengan-Nya. Kekristenan adalah semua tentang hubungan bukan hanya agama.

Dan sehingga Anda harus memupuk hubungan Anda dengan Tuhan. Anda harus berusaha untuk mengenal Dia dan bukan hanya berusaha untuk mengetahui tentang Dia.

Anda akan menumbuhkan hubungan yang terbaik dengan menghabiskan waktu di FirmanNya, meluangkan waktu untuk berdoa, dan mengambil setiap kesempatan yang Anda bisa untuk terlibat dalam kesempatan belajar Alkitab gereja dan kelompok kecil. Ketika Anda mencari disiplin dalam hidup Anda, Tuhan akan memulai langkah pertama yang mengungkapkan rencana-Nya kepada Anda.

    Amsal 3: 5-6

    5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan tidak bersandar pada pemahaman Anda sendiri; 6 dalam segala lakumu mengakui Dia, dan Dia akan langsung jalan Anda.

2) Menyerah kehendak Anda untuk Allah.

Banyak kali ketika kita mengatakan kita mencari kehendak Tuhan, apa yang kita benar-benar ingin mengatakan kepada Allah adalah ini: "OK, Tuhan, inilah apa yang saya berencana untuk melakukan. Sekarang aku ingin kau stempel ini, oke? "Saya harus memberitahu Anda bahwa ini tidak benar-benar efektif dalam mencari kehendak-Nya yang sejati.

Sebelum Tuhan akan mulai mengungkapkan kehendak-Nya bagi Anda, Anda harus berkomitmen untuk melakukan apa pun yang Dia inginkan untuk Anda lakukan. Allah kemungkinan akan lambat untuk menunjukkan rencana-Nya jika Dia tahu Anda mungkin tidak akan melakukan rencana itu pula.

    Roma 12: 1-2

    1 aku menasihatkan kamu karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah, bahwa Anda mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, diterima Allah, yang adalah ibadahmu yang sejati. 2 Dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan pikiran Anda, bahwa Anda dapat membuktikan apa itu niat baik dan dapat diterima dan sempurna dari Allah.

Yesus rela mati bagi kita, jadi tidak seharusnya kita bersedia untuk hidup bagi Dia? Ketika kita berserah kepada-Nya, yaitu ketika Dia benar-benar mulai mengarahkan langkah kita.

3) Patuhi apa yang sudah Anda ketahui untuk menjadi Kehendak Tuhan.

Banyak orang tampaknya ingin tahu apa rencana Allah bagi hidup mereka, tetapi mereka mengabaikan fakta bahwa 98% dari kehendak-Nya sudah digambarkan dengan hati-hati melalui Firman-Nya. Tuhan sangat jelas tentang banyak, banyak aspek kehendak-Nya. Sebagai contoh, itu jelas rencana-Nya yang kita menjauhkan diri dari percabulan (1 Tesalonika 4: 3).

Jika kita tidak mematuhi hal-hal yang Tuhan telah menunjukkan kepada kita dengan jelas menjadi kehendak-Nya, mengapa kita akan berpikir Dia akan mengungkapkan informasi lebih lanjut mengenai rencana-Nya bagi hidup kita? Ketaatan merupakan langkah pertama yang penting.

4) Carilah masukan yang saleh.

Salah satu komponen kunci untuk menemukan kehendak Allah adalah untuk mencari masukan dari penasehat saleh dalam hidup Anda. Jika Anda belum memiliki 3-4 mentor yang saleh, maka saya akan sangat menyarankan Anda mencari mereka segera.

Pikirkan cara ini: Anda harus memahami bahwa Anda pada dasarnya merupakan gabungan dari lima orang yang Anda menghabiskan sebagian besar waktu dengan. Jadi, maka, sangat penting bahwa Anda memilih lima orang baik. Jika Anda memilih untuk mengelilingi diri Anda dengan penasihat saleh, mereka akan berperan dalam membantu Anda membedakan rencana Allah bagi hidup Anda. Tetapi jika Anda mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang jauh dari Tuhan, harapan Anda untuk menemukan yang terbaik-Nya bagi hidup Anda akan sangat berkurang.

    Amsal 11:14

    Bila tidak ada nasihat, orang-orang jatuh; tetapi dalam banyak konselor ada keselamatan.

Gereja ini dirancang untuk membantu Anda sangat dengan ini. Saya akan mendorong Anda untuk menjadi di gereja setiap saat pintu dibuka. Semakin Anda melibatkan diri dengan komunitas orang percaya, semakin besar kemungkinan Anda akan menemukan orang-orang saleh dan wanita yang dapat membantu Anda membedakan kehendak Tuhan.

5) Perhatikan bagaimana Allah telah kabel Anda.

Tuhan telah menciptakan Anda untuk memenuhi peran tertentu di dunia ini. Tidak ada orang lain yang bisa mencapai sepenuhnya apa yang Tuhan telah sengaja menciptakan Anda lakukan.

Rasul Petrus memberi kita nasihat ini:

    1 Petrus 4:10

    Sebagai salah satu masing-masing telah menerima hadiah, menteri itu satu sama lain, sebagai pelayan yang baik dari kasih karunia Allah manifold.

Tuhan telah berbakat setiap orang dari kita untuk melakukan misi khusus yang kami sendiri diciptakan. Bagaimana menakjubkan adalah bahwa? Wow!

Jadi, ketika Anda berusaha untuk menemukan kehendak Allah bagi hidup Anda, perhatikan bagaimana Dia telah berbakat Anda. Rencana-Nya bagi Anda akan selalu berhubungan langsung dengan hadiah yang Dia telah diberikan kepada Anda. Kabar besar adalah bahwa Anda secara otomatis akan baik apa pun yang Dia telah memanggil Anda untuk melakukan!

6) Dengarkan Roh Allah.

Saya mengalami titik balik utama dalam kehidupan doa saya sendiri ketika saya belajar hanya untuk tutup mulut ketika aku sedang berdoa. Itu mungkin terdengar aneh bagi Anda, dan tampaknya aneh bagi saya pada awalnya.

Anda lihat, saya digunakan untuk melakukan semua berbicara ketika saya berdoa kepada Tuhan. Tapi kemudian, beberapa tahun yang lalu, saya membaca buku Bill Hybel itu, Terlalu Sibuk Tidak Berdoa. Buku yang benar-benar mengubah cara saya mendekati Allah melalui doa. Sejak membaca buku itu, saya telah menambahkan komponen penting untuk kehidupan doa saya: mendengarkan. Saya meluangkan waktu untuk mendengarkan apa yang mungkin Tuhan mengatakan kepada saya.

Praktis, cara saya pergi tentang hal ini adalah untuk membawa notepad dengan saya ketika saya duduk untuk berdoa. Lalu aku tulis di bagian atas beberapa halaman hal seperti berikut:

    "Apa langkah berikutnya dalam karir saya?"
    "Apa langkah selanjutnya dalam pelayanan saya?"
    "Apa langkah selanjutnya untuk keluarga saya?"
    "Apa langkah selanjutnya untuk pernikahan saya?"
    "Apa langkah berikutnya dalam pendidikan saya?"
    "Apa langkah berikutnya dalam keuangan saya?"

Selama doa saya, saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Seringkali, Tuhan akan mulai membanjiri hatiku dengan ide-ide dan informasi mengenai salah satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan. Saya menulis secepat yang saya bisa seperti Dia berbicara kepada hati saya. Apa pengalaman yang mulia yaitu untuk merasakan Roh-Nya pada saya, membimbing pikiran dan kata-kata saya.

Melalui pengalaman seperti ini, Dia telah menunjukkan berkali-kali dengan sangat jelas apa kehendak-Nya untuk hidup saya. Aku merindukan pengalaman-pengalaman ketika Dia berbicara kepada saya seperti itu. Saat-saat yang benar-benar mengubah hidup.

    Yohanes 10:27

    Domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.

7) Dengarkan hati Anda.

Selain mendengarkan Roh, saya juga merekomendasikan mendengarkan hati Anda. Untuk memahami maksud saya di sini, pertimbangkan kutipan berikut:

    Mazmur 37: 4-5

    4 dan bergembiralah karena TUHAN juga, dan Dia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Komit jalan ke Tuhan, percaya juga kepada-Nya, dan Ia akan mewujudkannya. (NKJV)

Saya suka bagian ini, karena menunjukkan bahwa, ketika saya berjalan dengan Tuhan, Dia benar-benar akan membiarkan saya melakukan banyak hal yang benar-benar keren yang saya benar-benar senang melakukannya! Ketika Anda dekat dengan-Nya, Dia benar-benar mulai membentuk keinginan Anda sehingga Anda menginginkan hal-hal yang Dia telah memanggil Anda untuk melakukan.

Jadi, rencana-Nya benar-benar menjadi petualangan super seru. Saya selalu memiliki paling menyenangkan dalam hidup ketika saya melakukan kehendak Allah. Dan itu adalah karena Dia membentuk saya "wanter" ingin melakukan hal-hal yang Dia telah benar-benar menciptakan aku.

8) Lihatlah keadaan Anda.

Tuhan sering jelas menunjukkan rencana-Nya bagi hidup kita dengan berbaris keadaan dengan cara yang jelas. Dan Dia juga menunjukkan kepada kita apa kehendak-Nya bukanlah untuk kita lakukan dalam cara yang sama. Hal ini tidak kehendak-Nya bagi Anda untuk mengambil pekerjaan yang tidak ditawarkan kepada Anda. Jika Anda adalah 5 '6 "tinggi dan berat 125 £., Bukan tidak mungkin bahwa Tuhan telah menciptakan Anda untuk bermain sepak bola profesional.

Selama bertahun-tahun, saya telah menemukan bahwa Allah adalah cukup baik membuka dan menutup pintu. Dia bahkan melakukan itu untuk Rasul Paulus dan enterouge di Kisah Para Rasul. Lihatlah bagian ini:

    Kisah Para Rasul 16: 6-10

    6 Ketika mereka telah melalui Frigia dan wilayah Galatia, mereka dilarang oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil di Asia.

    7 Setelah mereka datang ke Misia, mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh tidak mengizinkan mereka.

    8 Jadi melintasi Misia, mereka sampai di Troas.

    9 Dan visi tampaknya Paulus di malam hari. Seorang pria Makedonia berdiri dan memohon dengan dia, berkata, "Datanglah ke Makedonia dan membantu kami."

    10 Sekarang setelah ia melihat visi, segera kita berusaha untuk pergi ke Makedonia, menyimpulkan bahwa Tuhan telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada mereka.

Jadi, bahkan Paulus harus menghadapi pintu tertutup dalam pelayanannya. Tuhan seringkali menggunakan pintu tertutup untuk menunjukkan kepada kita dengan jelas apa yang Dia TIDAK ingin kita lakukan. Dan Dia juga menggunakan pintu terbuka pada waktu untuk menunjukkan kepada kita apa yang TIDAK Dia ingin kita lakukan. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa setiap pintu terbuka pasti rencana Allah, tetapi itu tidak membantu untuk memberikan beberapa arah dasar.

Sebuah Pemikiran Penutupan:

Lain kali Anda mulai merenungkan rencana Allah bagi hidup Anda, saya akan mendorong Anda untuk memikirkan di atas delapan kunci. Gunakan prinsip-prinsip ini untuk membantu Anda untuk mengasah dalam pada rencana-Nya. Dan ketika Anda mencari kehendak-Nya dengan sungguh-sungguh, Anda akan menemukannya!

Chris Russel

Simbol dalam Alkitab


SIMBOL DALAM ALKITAB

Pelangi: simbol perjanjian Allah Lihat juga Ge 9:13; Yeh 01:28; Rev 4: 3

Tangga: simbol jalan menuju Tuhan Ge 28: 11-13; Yoh 01:51

Guntur, petir, awan dan asap: simbol keagungan Ex Allah 19: 16-18; Ex 24:17; Ps 97: 2,4; Rev 4: 5; Rev 8: 5; Rev 11:19

Guntur: simbol suara Tuhan Mazmur 29: 3; Ps 68:33

Sangkakala: simbol Allah berbicara Ex 19:19; Rev 8: 6

Tiang awan dan api: simbol bimbingan Ex 13:21

Sebuah tahta: simbol kemuliaan Allah Yes 6: 1; Yeh 01:26; Rev 4: 2; Rev 22: 3

Tulang kering: simbol spiritual kematian Yeh 37: 1-2,11

Rambut putih: simbol kebijaksanaan Da 7: 9; Rev 01:14

Angin: simbol dari Roh Kudus Yoh 3: 8; Ac 2: 2

Api: simbol dari Roh Kudus Ac 2: 3

Bintang dan kaki dian: simbol menteri Allah Wahyu 01:20

Sebuah meterai cincin: simbol otoritas Est 8:10; Hag 2:23

Arrows: simbol penghakiman Allah Mazmur 38: 2; Ps 120: 4

Sebuah tongkat: simbol pemerintahan Allah Mazmur 2: 9; Rev 02:27; Rev 19:15

Batu penjuru: simbol keunggulan Mt 21:42 pp Mk 12: 10-11 pp Luk 20:17; Ps 118: 22

Sebuah batu: simbol stabilitas Maz 18: 2; Ps 40: 2

Tubuh manusia: simbol saling ketergantungan 1Kor 00:27

Rumput: simbol kelemahan manusia Ps 90: 5-6; 1Ptr 1:24
Makhluk simbolik

Ular: simbol kehalusan Setan Ge 3: 1; Rev 12: 9; Wahyu 20: 1-3

Belalang: simbol penghakiman Allah Ex 10:12; Yoel 1: 4; Rev 9: 3


Binatang: simbol duniawi kerajaan Da 7: 2-7,17; Da 8: 20-22

Sebuah merpati: simbol dari Roh Kudus Mt 03:16 pp Mk 01:10 pp Luk 03:22

Sebuah domba: simbol pengorbanan Yesus Kristus Wahyu 5: 6
Tindakan simbolik

Melanggar jar: simbol kehancuran Yerusalem Yer 19: 10-11

Kutukan dari pohon ara: simbol penghakiman Mat 21: 18-19 pp Mk 11: 12-14

Cuci tangan: simbol tidak bersalah Mt 27:24

Menjadi haus: simbol kebutuhan spiritual Ps 63: 1; Yoh 07:37

Baptisan: simbol keselamatan di dalam Yesus Kristus Ac 22:16; Ro 6: 3-4; 1Ptr 3:21

Perjamuan Tuhan: simbol persatuan dengan Kristus Mt 26: 26-29 pp Mk 14: 22-24 pp Luk 22: 19-20 pp 1Kor 11: 23-26

Urapan: simbol pemberdayaan oleh Roh 1Sam Allah 16:13; Luk 4:18; Yes 61: 1
Pemanenan: simbol penghakiman hari Joel 3: 12-13; Mt 13: 29-30; Rev 14:15
Merobek pakaian: simbol kemarahan dan kesedihan Ge 37: 29,34; Yos 7: 6
Meludah: simbol penghinaan Yes 50: 6; Mt 26:67 pp Mk 14:65
Mengibas debu: simbol penolakan Mt 10:14 pp Luk 9: 5; Ac 13:51
Duduk di dan berkabung: simbol pertobatan Ps 69:11; Yes 22:12; Jnh 3: 5-6; Mt 11:21
Mengangkat tangan: simbol doa Mzm 63: 4; 1Tim 2: 8
Menutup kepala: simbol penyerahan 1Kor 11: 3-10Simbol mengungkapkan sifat dan karakter Allah
Wajah Allah: simbol kehadirannya Nu 6: 25-26; Ps 34:16
Lengan atau tangan Tuhan: simbol kekuasaannya Ps 21: 8; Ps 89:13
15 simbol kesadarannya Pr:: Allah mata 3; 1Ptr 3:12
Telinga Allah: simbol Allah mendengarkan Ps 31: 2; Yes 59: 1Lihat juga1210 Tuhan, deskripsi manusia1448 tanda-tanda1650 nomor, signifikansi3120 Roh Kudus, deskripsi5865 gerakan6732 pertobatan7271 Sion, sebagai simbol7903 baptisan7933 Perjamuan Tuhan9210 penghakiman, Allah

PELAJARAN HIDUP DALAM MEMBERI



Menjelang lebaran, Kota Palu mendadak kebanjiran pengemis yang ciri-ciri fisiknya hampir semua sama. Kulit hitam, maaf 'dekil', rambut keriting, hidung mirip satu sama lain, dan datang bergerombol. Suatu malam, selepas makan malam,  1 dari mereka masuk langsung ke teras rumah, krn malam itu pagar tidak terkunci. Aku tak sempat melihatnya, tapi anakku bilang ma, ada tukang minta-minta di luar. Lalu aku bertanya pada anakku, berapa orang. katanya, cuma satu ma. Sebenarnya aku heran, kok cuma 1, biasanya bergerombol. Kata anakku, mungkin bersembunyi yang lain. Lalu, anakkku ku suruh memberikan lima ribu rupiah kepada pengemis itu tanpa bertemu dengan pengemis itu. Tapi apa yang kurasa setelah itu, aku merasa tidak nyaman karena tidak menemui pengemis itu. Kalau aku tak melihat keadaannya, mana aku tahu kebutuhannya. Apa dengan lima ribu rupiah cukup untuk dia ketika itu.
Keesokan harinya, malam sekitar jam 9, aku dan anak2 sudah beristirahat sambil nonton TV. Pagar sudah digembok. Masih juga ada yang berteriak dari luar dengan salam 'Asalamu'alaikum. Karena malas harus bangun lg, aku dan anak2 pura2 tidak dengar. Tapi, malam itu lagi-lagi aku merasa tidak tenang. Aku menyesal kenapa tidak bangun, dan membukakan pagar untuk mereka. Menjawab rasa menyesal itu, besoknya aku langsung menukar uang menjadi pecahan lima ribuan untuk kubagikan kepada mereka kalau ada pengemis yang datang lagi. Ternyata, sampai saat ini, pengemis tidak ada lagi yang datang ke rumahku. Ketika aku siap lahir batin, ternyata tidak ada lagi yang datang.
Apa maknanya? JIKA ANDA INGIN MEMBERI, JANGAN TUNDA.

Rabu, 11 Maret 2015

The Sick Rose

O Rose, thou art sick!
The invisible worm
That flies in the night,
In the howling storm,

Has found out thy bed
Of crimson joy:
And his dark secret love
Does thy life destroy.

William Blake Poems

On Another's Sorrow
 
Can I see another's woe,
And not be in sorrow too?
Can I see another's grief,
And not seek for kind relief?

Can I see a falling tear,
And not feel my sorrow's share?
Can a father see his child
Weep, nor be with sorrow filled?

Can a mother sit and hear
An infant groan, an infant fear?
No, no! never can it be!
Never, never can it be!
-
 
Love's Secret

Never seek to tell thy love,
Love that never told can be;
For the gentle wind does move
Silently, invisibly.

I told my love, I told my love,
I told her all my heart;
Trembling, cold, in ghastly fears,
Ah! she did depart!

Soon as she was gone from me,
A traveler came by,
Silently, invisibly
He took her with a sigh.


I went to the Garden of Love,
And saw what I never had seen;
A Chapel was built in the midst,
Where I used to play on the green.

And the gates of this Chapel were shut
And 'Thou shalt not,' writ over the door;
So I turned to the Garden of Love
That so many sweet flowers bore.

And I saw it was filled with graves,
And tombstones where flowers should be;
And priests in black gowns were walking their rounds,
And binding with briars my joys and desires.


The Garden of Lave

Specific Language Impairment



ABSTRAK
Heriwanty. 2014. Stimulasi Multisensorik untuk Mengatasi Gangguan Berbahasa pada Anak Yang Mengalami Specific Language Impairment (SLI). Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd.,  (II)  Dr. Mudjianto,  M.Pd, dan (III)  Dr. Syamsudin, M.Hum.

Kata Kunci: stimulasi multisensorik, gangguan berbahasa, Specific Language Impairment.

Perkembangan bahasa tidak sama pada setiap manusia. Manusia yang bahasanya tidak berkembang secara normal berarti mengalami gangguan. Salah satu bentuk gangguan berbahasa adalah specific language impairment (SLI). Seorang anak disebut mengalami SLI apabila anak tersebut mengalami gangguan khusus di bidang bahasa. Anak tidak mengalami gangguan pendengaran, tidak mengalami retardasi mental, dan tidak mengalami gangguan autistik.
Tujuan penelitian ini adalah menemukan  penyebab gangguan berbahasa pada anak SLI, mendeskripsikan presentasi klinis kebahasaan anak yang mengalami SLI, menerapkan intervensi imitasi dan stimulasi multisensorik, dan mendeskripsi perkembangan kemampuan berbahasa anak SLI setelah mengalami intervensi.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menggunakan pendekatan Par-ticipatory Action Research (PAR) dengan model DDAER menggunakan an-cangan teori  linguistik klinis. Intervensi yang dilakukan berupa stimulasi  multisensorik, yaitu  dengan melibatkan beberapa modalitas sensorik secara bersamaan untuk mengatasi gangguan berbahasa pada anak SLI. Data pada penelitian ini terdiri atas tuturan anak SLI sebelum intervensi, data hasil wawancara dengan orang tua, guru, dan berbagai spesialis medis, data pelaksanaan intervensi, dan data tuturan anak SLI setelah intervensi. Sumber data utama penelitian ini adalah anak SLI bernama JM, siswa SD yang berdomisili di Kota Palu, sedangkan sumber data sekunder adalah orang tua, guru, dan praktisi kesehatan
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik  observasi partisipatori, dan teknik wawancara yang dilengkapi dengan perekaman dan atau pencatatan. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dalam empat tahap, yakni tahap (1) analisis penyebab gangguan SLI dengan mengumpulkan, mereduksi, menginterpretasi, menyimpulkan dan memverifikasi data hasil wawancara,  (2) analisis tuturan subjek sebelum intervensi dengan mentranskripsikan, mereduksi, mengklasifikasi, menginterpretasi, menyimpulkan dan memverifikasi data, (3) analisis keterlaksanaan intervensi dengan menghitung rata-rata keterlaksanaan intervensi, dan (4) analisis tuturan setelah intervensi dengan dengan mentranskripsikan, mereduksi, mengklasifikasi, menginterpretasi, menyimpulkan dan memverifikasi data. 
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh temuan penelitian sebagai berikut: (1) SLI pada subjek disebabkan oleh faktor genetik atau riwayat ke-turunan dan kurangnya stimulasi dari keluarga terdekat, bukan karena retardasi mental, gangguan artikulasi atau gangguan pendengaran ataupun spektrum au-tistik, (2) Presentasi klinis subjek SLI ditunjukkan dengan berbagai defisit  fonologis, defisit morfologis, defisit sintaktis, defisit leksikosemantis, dan defisit pragmatis, (3) untuk mengurangi defisit fonologis dilakukan intervensi berupa imitasi ucapan, sedangkan untuk mengurangi defisit morfologis, sintaksis, leksiko-semantis, dan pragmatis dilakukan intervensi dalam bentuk stimulasi multisensorik dengan memanfaatkan berbagai media, dan (4) metode stimulasi memberikan kontribusi positif pada (a) perkembangan kemampuan fonologis ; (b) perkembangan kemampuan morfologis; (c) perkembangan kemampuan sintaksis; (d) perkembangan kemampuan leksiko-semantis; dan (e) perkembangan kemampuan pragmatis. Selain itu, intervensi stimulasi memberi kontribusi positif terhadap perkembangan kognitif, psikologis dan sosial subjek.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan sebagai berikut: (1) Orang tua memiliki peran yang sangat strategis untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak SLI dengan memberikan stimulasi yang lebih sering dengan memperkatakan setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama, (2) Guru dapat membantu anak SLI dalam mengembangkan kemampuan berbahasa melalui bimbingan yang terarah dan konsisten untuk memberikan kesempatan yang lebih besar kepada anak dalam berinteraksi di kelas dan di luar kelas., (3)Peneliti berikutnya dapat mengkaji defisit lain yang dialami oleh anak SLI, seperti kesulitan membaca dan kesulitan menulis dengan menggunakan ancangan teori yang sama atau berbeda.



INTERVENSI SPECIFIC LANGUAGE IMPAIRMENT



INTERVENSI MENGGUNAKAN FLASHCARD  UNTUK MENGEMBANGKAN KOSAKATA  ANAK YANG MENGALAMI
 SPECIFIC LANGUAGE IMPAIRMENT

Heriwanty
heriwantyuntad@yahoo.co.id/eribarto71@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini menggambarkan dan mengevaluasi intervensi yang dilakukan kepada JM, anak yang mengalami specific language impairment (SLI). JM anak  berusia 6 tahun 2 bulan yang menurut diagnose,  JM tidak mengalami gangguan pendengaran, bukan penyandang autisme, dan tidak mengalami keterbelakangan mental. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kosa kata anak dengan bantuan media flashcard.
Prosedur penelitian dilakukan menggunakan disain A-B-A. Penelitian diawali dengan melakukan asessment kosa kata yang dikuasai oleh JM. Asessment dilakukan dalam bentuk tes. Asessment awal dilakukan selama 8 hari. Hasil asessment awal digunakan untuk membuat program intervensi. Intervensi dilakukan dengan menggunakan flashcard.  Intervensi dilakukan selama 8 minggu. Setiap minggu intervensi dilakukan  sebanyak 3 kali. Setiap pertemuan menggunakan waktu 60 menit. Setelah 8 minggu, dilakukan assessment kembali  terhadap JM untuk mengetahui efektivitas penbggunaan flashcard untuk mengembangkan kosa kata anak yang mengalami SLI.
Hasil Intervensi menunjukkan bahwa penggunaan cerita bergambar cukup efektif untuk mengembangkan kosa kata anak yang mengalami SLI .

Keywords:  intervensi, flashcard, kosa kata, SLI

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Anak adalah masa depan sebuah keluarga. Setiap orang tua memiliki harapan agar anaknya bertumbuh dan berkembang secara normal. Pertumbuhan dan perkembangan  manusia meliputi beberapa aspek. Pertama,  aspek pertumbuhan  fisik berupa perubahan ukuran tubuh, proporsi anggota badan, tampang, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan. Kedua, perkembangan kognitif  berupa perubahan yang bervariasi dalam proses berpikir dalam kecerdasan termasuk rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan dengan mengunakan bahasa. Ketiga, perkembangan sosial-emosional  berupa  perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persahabatan, dan pengertian tentang moral (Santrock, 2007: 91).
Seorang anak yang mengalami masalah dalam mengekspresikan diri akan sulit dimengerti oleh orang tuanya, guru dan teman-temannya. Anak yang mengalami hal tersebut akan mendapat perlakuan yang  berbeda dari teman lainnya, bahkan menjadi bahan tertawaan yang akan menyebabkan anak frustrasi untuk membuat  orang lain mengerti (learning disabilities.about.com diakses 25 Februari 2013). Anak tersebut dapat dikategorikan sebagai anak yang mengalami gangguan berbahasa. Salah satu bentuk gangguan berbahasa pada anak adalah specific language impairment (SLI).
SLI adalah gangguan bahasa spesifik yang ditandai dengan perkembangan bahasa yang lambat. Sebagian besar anak SLI tidak mengalami defisit  kognitif atau neurologis lainnya. Menurut (Maillart & Parisse, 2006), SLI adalah sebuah nama umum meliputi tiga gangguan perkembangan bahasa, yaitu dispraxia lisan perkembangan, disfasia linguistik, dan gangguan bahasa pragmatis.
Anak adalah harapan keluarga dan pilar bangsa di masa yang akan datang. Pengawalan perkembangan anak menjadi tanggung jawab setiap orang, bukan hanya keluarga. Perkembangan bahasa menjadi vital karena kemampuan berbahasa merupakan investasi masa depan bagi anak. Untuk itu, peneliti merasa terpanggil untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan bahasa anak yang menderita SLI  melalui intervensi penggunaan flashcard.
1.2  Rumusan Masalah
a.       Bagaimana langkah-langah penerapan intervensi penggunaan flashcard untuk mengembangkan kosakata anak yang mengalami SLI?
b.      Apakah penggunaan flashcard dapat mengembangkan kosa kata anak yang mengalami SLI?

1.3  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
a.         Untuk menggambarkan langkah-langkah penerapan intervensi penggunaan flashcard dalam mengembangkan kosa kata  anak yang mengalami  SLI.
b.        Untuk mengembangkan kosa kata anak yang mengalami  SLI melalui  intervensi  penggunaan flashcard.

1.4  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Secara Teoritis
Untuk mengembangkan konsep-konsep multidisipliner dan mengembangkan linguistik terapan, terutama lingustik klinis di Indonesia.
2. Secara Praktis
Sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kompetensi sekaligus  terapi gangguan SLI pada anak. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh ahli terapi untuk kasus yang hampir sama. 

2.      Kajian Pustaka
2.1 Intervensi
Penanganan anak yang menyandang gangguan bahasa ekspresif sebaiknya dilakukan dua arah (Tiel, 2011: 159).  Dalam hal ini, peneliti tidak hanya melihat kelemahan anak tetapi juga kekuatannya agar anak tidak merasa tertekan.  Menurut (Hernawati, 2009: 4), dalam melakukan intervensi, perlu mengikuti prosedur umum sebagai berikut:
a.      Asessment
Asessment adalah pengukuran dan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui defisit atau kelemahan apa yang dialami oleh anak. Penilaian dapat bervariasi berdasarkan usia anak. Keterampilan narasi misalnya,   dapat dinilai dengan meminta  anak menceritakan kembali cerita dengan menggunakan buku bergambar tanpa kata-kata (Swanson, 2005).
b.      Menganalisis Hasil Assessment
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan assessment perlu dianalisis untuk melihat detail aspek yang akan diintervensi, misalnya intervensi aspek fonologis, morfosintaksis, semantis atau pragmatis.
c.       Membuat Program Intervensi
Pembuatan program intervensi didasarkan atas hasil analisis. Program intervensi memuat metode dan teknik intervensi, prosedur intervensi, target intervensi, jadwal intervensi, dan pelaku intervensi.
d.      Melaksanakan Program Intervensi
Program intervensi yang telah disusun perlu dilaksanakan secara konsisten agar target intervensi dapat tercapai. Pelaksanaan intervensi memerlukan pengamatan yang intensif dari pelaksana intervensi. Sedapat mungkin intervensi dibantu dengan alat rekam dan pencatatan.
e.       Evaluasi atau Asessment Ulang dan Tindak lanjut
Assessmen ulang dilakukan setelah intervensi dilaksanakan. Tujuan assessmen ulang adalah untuk mengetahui perkembangan aspek-aspek defisit yang telah diintervensi. Asessmen ulang sangat penting untuk melihat keberhasilan intervensi.
Anak dengan SLI yang mengalami defisit sintaksis dapat diintervensi dengan berbagai teknik. Hasil penelitien Gillam ( dalam Clark & Kamhi, 2009) menunjukkan bahwa strategi imitasi, pemodelan, dan produksi menimbulkan dampak  yang besar pada anak-anak dengan kesulitan sintaksis ekspresif.
Mortimer (2003:8) menyebutkan beberapa bentuk intervensi yang dapat dilakukan untuk  meningkatkan kemampuan berbicara pada  anak dengan gangguan bahasa ekspresif, yaitu: a) bermain menggunakan boneka dan telepon untuk mendorong vokalisasi b) bermain bersama dalam kelompok kecil sehingga anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendengar dengan sungguh-sunguh dan mengulanginya c) Latihan membuat gerakan mulut, lidah dan suara saat berbicara dengan jelas di depan kaca secara bersama-sama, d) Saat anak mengucapkan suatu kata secara tidak jelas, jangan meminta anak untuk mengatakannya  dengan benar. Sebaiknya ulangi kata tersebut dengan jelas  kepada mereka sehingga mereka  dapat mendengar versi yang benar.
2.2    Flashcard
Flashcard merupakan media yang termasuk pada jenis media grafis atau media dua dimensi, yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Menurut Wibawa (Ratnasari, 2003:16), flashcard biasanya berisi kata-kata, gambar atau kombinasinya dan dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata dalam pelajaran bahasa pada umumnya dan bahasa asing khususnya.
Arsyad (2005:119) menjelaskan bahwa flashcard adalah kartu kecil yang berisi gambar-gambar, teks atau simbol yang mengingatkan atau menuntun siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu, dapat digunakan untuk melatih anak dalam mengeja dan memperkaya kosakata. Flashcard biasanya berukuran 8x12 cm, atau dapat disesuaikan dengan besar kecilnya kelas yang dihadapi.
Media flashcard memiliki beberapa kelebihan, yaitu mudah dibawa dan tidak membutuhkan ruang yang besar, praktis karena tidak membutuhkan keahlian khusus dalam penggunaannya, mudah diingat karena menyajikan pesan-pesan singkat, serta menyenangkan dan menarik karena flashcard dalam penggunaannya bisa melalui permainan. 

2.3 Kosa Kata
Kosa kata  berhubungan dengan kemampuan semantic seseorang. Kemampuan semantis adalah kemampuan pemahaman bahasa, baik secara pasif maupun aktif. Pemahaman bahasa sangat didukung oleh tingkat penguasaan kosakata anak. Untuk mengembangkan penguasaan kosa kata anak usia dini tidak dapat dilepaskan dengan penentuan kosa kata apa saja yang sesuai dengan anak usia dini itu sendiri, untuk itu perlu perlu diuraikan mengenai kata-kata yang relevan dan sesuai untuk anak usia dini, uraian kosa kata terkait erat dengan jenis kata. 
Keraf (194) menjelaskan kelas kata bahasa Indonesia dibagi menjadi  empat kelas utama, yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas. Untuk anak usia dini kosa kata yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari meliputi kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan waktu.
2.4 Specific Language Impairment
Pada anak yang mengalami SLI terjadi masalah dengan persepsi pendengaran dan proses fonologis yang sangat memberi dampak pada kemampuan membaca anak (Bishop & Snowling, 2004:  859).  Fey et al (dalam Schmidt 2012: 1) mengatakan bahwa anak yang mengalami SLI menunjukkan defisit dalam bidang fonologi, semantik leksikal dan relasional, sintaksis, morfologi, dan pragmatik.   Keterkaitan perkembangan kontrol oral  motorik dengan gangguan bicara dan bahasa pada anak-anak dengan SLI adalah  mereka tidak mampu bertahan dengan fitur sintaksis-semantik fitur untuk tata bahasa mereka. Hal ini membuat anak-anak tidak dapat mengembangkan aturan morfofonemik (Aguilar-Mediavilla et al, 2002: 577).
Ciri SLI menurut Gillam (2009) adalah sebagai berikut: (a) kekurangan vocabulary, (b) tidak mampu menggunakan kalimat kompleks, (c) tatabahasa lemah, (d) kurang mampu menggunakan pronoun dan konjungsi, (e) kesulitan dalam memahami cerita, dan (f) kesulitan dalam memproduksi cerita. Ditambahkan oleh  Aguilar-Mediavilla et al (dalam Schmidt, 2012) bahwa: (a) anak-anak SLI kurang akurat dalam produksi ujaran jika melihat usia mereka, (b) anak-anak SLI juga kurang akurat dalam perkembangan penggunaan bunyi-bunyi lateral, nasal, dan glottal, (c)  anak-anak  SLI juga menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam pemerolehan struktur suku kata yang sederhana, seperti  CV  dan (d) anak-anak SLI juga menunjukkan sering mengalami  afrikasi,  lateralisasi, pengurangan klaster, dan penghapusan klaster.
 Hasil penelitian di atas mendukung hipotesis Leonard (2000: 3)  bahwa anak-anak dengan SLI memiliki pengolahan memori yang lambat. Penelitian di atas sangat  membantu  menjelaskan gejala dan keseluruhan proses yang mengalami defisit untuk mengembangkan intervensi  anak-anak dengan SLI. Bishop (2007:18) juga menjelaskan bahwa anak dengan SLI mengalami masalah dalam belajar kata, membuat ujaran yang benar, memproduksi atau memahami kalimat kompleks.
Berdasarkan hasil penelitian para pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa anak yang mengalami SLI memiliki gejala sebagai berikut: (a) lemah dalam menghasilkan bunyi yang benar, (b) lemah dalam belajar kosa kata, (c) mengalami gangguan dalam menghasilkan maupun memahami kalimat kompleks,  (d) mengalami gangguan dalam mengklasifikasi bunyi, (e) menggunakan kalimat yang pendek dan tidak gramatikal, (f) pada beberapa kasus anak yang berusia tujuh tahun berbicara seperti bayi.
Setelah melakukan berbagai penelitian, Gilam (2009) menyimpulkan bahwa dengan berbagai kondisi yang dialami oleh anak dengan SLI maka target intervensi SLI pada umumnya adalah perbendaharaan kata umum,  tatabahasa morfologi dan sintaksis, kesadaran fonologis, dan cerita.
3.      Metode Penelitian
3.1 Setting dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu selama 3 bulan, mulai Mei s.d. Juli 2013.  Subjek penelitian adalah JM, anak yang mengalami SLI dengan identitas sebagai berikut:
Nama                                       : JM
Tempat tanggal lahir               : Palu, 9 Oktober 2006
Umur                                       : 6 tahun  7 bulan
Nama  ayah                             : YR (37 tahun)
Pekerjaan                                 : Polisi
Nama Ibu                                : J (35 tahun)
Pekerjaan                                 : Perawat
Hasil screening perkembangan bahasa berdasarkan kartu menuju sehat dan wawancara dengan orang tua dan nenek subjek dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.         1-2 tahun  : hanya diam, tidak bisa berbicara sama sekali
b.        2-3 tahun : bisa berbicara, tetapi tidak jelas artikulasinya. Contoh: au-au, e e
c.         3-4 tahun : hanya bisa menyebut ma, pa, ta
d.        5 tahun     : hanya bisa berbicara beberapa kata, dan sebagian kata  hanya diucapkan suku kata terakhir tanpa konsonan, itupun pengucapannya sedikit susah. Seperti: ya, ma, tata, eto, ito.
e.         6 tahun     : sudah mampu mengucapkan kalimat dengan dua kata, namun tidak sempurna, seperti tata lia (tante Ria), mau mana (mau makan), dan bita taya (bisa saya).
Berdasarkan keterangan orang tua dan nenek subjek,  dapat disimpulkan bahwa pada usia 1-2 tahun subjek  tidak bisa berbicara tetapi mengerti jika diberi perintah atau instruksi oleh orangtuanya. Pada usia 2-3 tahun JM mampu  berbicara tetapi tidak jelas artikulasinya. JM hanya bisa memproduksi fonem-fonem vocal. Subjek  mengerti jika diberi perintah oleh ibunya atau mengerti  tuturan  yang dilontarkan oleh orang tuanya. Sampai pada usia 6 tahun, subjek  belum bisa merangkai kalimat dengan benar.
3.2  Tahap-tahap Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan disain A-B-A, yaitu assessment-intervensi-asessment.
3.2.1        Asesement Awal
Pada assessment awal disiapkan  200 flashcard yang berisi berbagai macam gambar yang disertai deskripsi sederhana. Flashcard berisi gambar-gambar sederhana yang diberi nama dan deskripsi singkat.  Subjek diminta untuk melabeli/menamai setiap flashcard. Hasil penamaan ditranskripsi ke dalam tulisan. Setiap penamaan, baik yang jelas maupun tidak jelas dicatat pada format assessment berikut.
Tabel 1.  Format Assesment Awal
No
Jenis Gambar
Jumlah Gambar
Gambar  T
Gambar TT
Gambar T Artikulasi J
Gambar T Artikulasi TJ
1
Anggota tubuh
20




2
Binatang
20




3
Alat tulis/sekolah
10




4
Aktivitas
35




5
Anggota Keluarga
10




6
Perabot rumah tangga
20




7
Alat makan
10




8
Alat mandi
10




9
Makanan dan minuman
30




10
Nama buah
10




11
Nama Kendaraan
10




12
Nama warna
10




13
Rasa
5




Keterangan:
T          : (diketahui)
TT        : (tidak diketahui)
J           : (jelas)
TJ        : (tidak jelas)
3.2.2        Intervensi
Intervensi disusun berdasarkan hasil assessment awal. Flashcard yang tidak diketahui (TT) oleh subjek dipisahkan dengan flashcard yang sudah diketahui (T). Setiap flashcard TT diberi deskripsi singkat dengan bahasa sederhana pada bagian belakang flashcard. Setelah semua bahan disiapkan, dilakukan intervensi dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 2. Aktivitas Intervensi
No
Minggu
Aktivitas
Jenis Flashcard
Keterangan
1
I
Memperkenalkan anggota tubuh dan fungsinya
Menjelaskan  alat mandi serta fungsinya
Gambar tubuh manusia dan gambar alat mandi
Setiap sesi disertai dengan cara artikulasi yang benar
2
II
Memperkenalkan nama buah dan rasanya masing-masing
Memperkenalkan nama-nama binatang dan manfaat dan bahayanya masing-masing
Gambar buah dan gambar binatang

3
III
Menjelaskan Alat tulis/sekolah dan fungsinya
Menjelaskan nama anggota keluarga dan kedudukannya dalam keluarga
Gambar alat tulis/alat sekolah/foto keluarga

4
IV
Menjelaskan berbagai aktivitas dan pelaku aktivitas
Gambar aktivitas

5
V
Menjelaskan jenis makanan dan minuman
Gambar makanan dan minuman

6
VI
Menjelaskan berbagai perabot rumah dan fungsinya
Gambar perabot

7
VII
Menjelaskan jenis-jenis alat makan dan fungsinya beserta warna masing-masing
Gambar alat makan yang berwarna warni

8
VIII
Menjelaskan jenis-jenis kendaraan dan tempat operasinya
Gambar kendaraan

 


Setiap selesai satu sesi intervensi dilakukan evaluasi selama 10 menit untuk mengetahui capaian JM pada setiap sesi.
2.2.1        Asessment Ulang
Asessment ulang dilakukan setelah semua sesi intervensi rampung. Asessment ulang dilakukan tetap menggunakan instrument assessment awal, yaitu seluruh flashcard berjumlah 200. Asesment ulang dilakukan dengan teknik yang sama dengan assessment awal, namun ditambah dengan tes pemahaman tentang kosakata pada konteks sehari-hari.
2.3  Data dan  Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini adalah tuturan subjek. Teknik pengumpulan data berupa  tes, wawancara, dan observasi. Teknik observasi digunakan selama intervensi berlangsung. Melalui observasi diharapkan tidak ada moment yang hilang. Untuk itu, observasi dilengkapi dengan teknik perekaman dan pencatatan.
2.4  Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik  presentase, yaitu  menghitung persentase kosa kata yang diketahui, baik yang artikulasinya benar, maupun yang tidak.  Adapun alur analisis data dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a.    Tuturan berupa kata ditranskripsi ke dalam bahasa tulis
b.    Menghitung jumlah kata yang diketahui dan persentasenya
c.    Menghitung jumlah kata yang bisa diproduksi dengan jelas dan berapa tuturan yang tidak dapat diproduksi dengan jelas
d.   Mendeskripsi hasil intervensi. Deskripsi bukan hanya capaian kosa kata dari segi  kuantitatif, tetapi juga proses pencapaiannya.  

3.      Hasil Penelitian dan Pembahasan
Sesuai disain intervensi yang telah disusun, sebelum intervensi dilakukan assessment awal untuk mengetahui baseline 1 subjek. Asesment dilakukan untuk mengetahui kosakata yang dimiliki oleh subjek secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil assessment menunujukkan bahwa dari sejumlah 200 kata yang terdapat pada flashcard, hanya  98 yang diketahui oleh JM seperti pada tabel berikut:
Tabel 3. Hasil Asessment Awal
No
Jenis Gambar
Jumlah Gambar
Gambar  T
Gambar TT
Gambar T Artikulasi J
Gambar T Artikulasi TJ
1
Anggota tubuh
20
14
6
2
12
2
Binatang
20
7
13
1
6
3
Alat tulis/sekolah
10
5
5
0
5
4
Aktivitas
35
21
14
2
19
5
Anggota  Keluarga
10
8
2
4
4
6
Perabot rumah tangga
20
9
11
2
7
7
Alat makan
10
3
7
0
3
8
Alat mandi
10
5
5
0
5
9
Makanan dan minuman
30
10
20
2
8
10
Nama buah
10
6
4
0
6
11
Nama Kendaraan
10
4
6
0
4
12
Nama warna
10
5
5
1
4
13
Rasa
5
1
4
0
1

Jumlah
200
98
102
14
84




Persentase kosa kata yang diketahui JM adalah 98  kata atau 49%. Sedangkan kosa kata yang dapat diartikulasikan dengan benar dari kosa kata yang diketahui adalah  sebanyak 14 kata atau  14,2 %.
Setelah dilakukan intervensi terhadap subjek ada peningkatan penguasaaan kosa kata dan cara artikulasi yang benar. Hasil intervensi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Hasil Asessment Ulang
No
Jenis Gambar
Jumlah Gambar
Gambar  T
Gambar TT
Gambar T Artikulasi J
Gambar T Artikulasi TJ
1
Anggota tubuh
20
19
1
5
14
2
Binatang
20
15
5
3
12
3
Alat tulis/sekolah
10
10
0
1
9
4
Aktivitas
35
31
4
4
27
5
Anggota  Keluarga
10
10
0
5
5
6
Perabot rumah tangga
20
15
5
4
11
7
Alat makan
10
7
3
1
6
8
Alat mandi
10
9
1
2
7
9
Makanan dan minuman
30
21
9
4
17
10
Nama buah
10
9
1
1
8
11
Nama Kendaraan
10
8
2
1
7
12
Nama warna
10
9
1
2
7
13
Rasa
5
5
0
2
3

Jumlah
200
168
32
35
133

Persentase penguasaan kosa kata hingga akhir intervensi sebanyak 168 kata atau sebesar 84%. Jumlah kata yang tidak jelas dapat diminimalkan sehingga persentasenya lebih kecil dibandingkan sebelum intervensi. Kata yang jelas sebanyak 32 atau 19% .  Pada saat melakukan intervensi, perhatian subjek tertuju pada mulut peneliti. Peneliti sering terkecoh karena tidak mendapat perhatian subjek karena mata tidak tertuju pada mata peneliti atau flashcard yang menjadi media.
4.      Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
a.       Penerapan intervensi penggunaan flashcard untuk mengembangkan kosa kata  anak yang mengalami  SLI sangat efektif. Efektifitas  penggunaan dilihat pada adanya peningkatan kosa kata yang dikuasai dari 49% menjadi 84%. Jadi peningkatannya mencapai  39%.
b.      Ada peningkatan kejelasan artikulasi sebanyak 4,8% dari 168 kata yang dimiliki JM.
c.       Artikulasi kata yang kurang jelas dapat diatasi dengan imitasi yang intensif.

4.2  Saran
a.       Asessment dapat dilakukan pada semua bidang kebahasaan, bukan hanya kosa kata.
b.      Defisit bahasa yang dialami oleh anak SLI sangat kompleks. Setiap defisit membutuhkan intervensi yang berbeda-beda. Untuk itu, SLI merupakan lahan subur untuk mengembangkan intervensi bagi anak berkebutuhan khusus.

DAFTAR RUJUKAN
Bishop, Dorothy V.M., & Margaret J. Snowling. 2004. Developmental Dyslexia and Specific Language Impairment: Same or Different?, (Online), Psychological Bulletin, Volume 130 Nomor 6, halaman 858-886, diakses 13 Pebruari 2013.
Bishop, Dorothy V.M. & Leonard Laurence B. 2007. Dorothy Bishop: Understanding Specific Language Impairment. Wellcome Trust. High Quality Research.
Bishop, Dorothy V.M. & Leonard Laurence B. 2000. Speech and Language Impairments in Children: Causes, Characteristics, Intervention and Outcome. New York, NY, US: Psychology Press.
Hernawati, Tati. 2009. Intervensi Gangguan Bahasa. (Makalah) UPI Bandung (Online) file.upi.edu diakses 25 Februari 2013.
Leonard, Laurence B. 2000. Children with Specific language Impairment. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology Press.
Santrock, John W. 2007a.  Perkembangan Anak Jilid 2 Edisi Kesebelas Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. 2007b.  Perkembangan Anak Jilid 2 Edisi Kesebelas Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Schmidt, Will. 2012. Effective Interventions for Preschool Children with Specific Language Impairment. (Online) Makalah Graduate School Southern Illinois University Carbondale, diakses 15 Pebruari 2013.
Swanson, Lori A. et al. 2005. Use of Narrative-Based Language Intervention With Children Who Have Specific Language Impairment . American Journal of Speech-Language Pathology . Vol. 14,  pp 131–143 , diakses 10 Maret 2013.
Van Tiel, Julia Maria. 2011. Pendidikan Anakku Terlambat Bicara. Jakarta: Prenada Media Group.